Kenapa Harus Sawit ?

Oleh: Yanuar Ilham G

GambarKetika kita melakukan perjalanan di beberapa daerah di kalimantan, sulawesi dan sumatra, kita akan di hadapkan pada kenyataan bahwa sawit telah mendominasi sektor perkebunan di beberapa daerah tersebut. Meskipun sawit merupakan spesies dari hutan brazil, namun sawit dapat tumbuh dengan baik di tanah-tanah di negri ini. sehingga, seiring dengan tingginya permintaan CPO di pasar dunia yang merupakan dampak dari krisis energi, meningkat pula investasi-investasi yang dilakukan oleh koorporasi untuk perkebunan kelapa sawit.

Jika negara-negara tetangga, seperti Thailand dan Vietnam memililiki beras sebagai ujung tombak ekspor mereka, maka indonesia memiliki minyak sawit sebagai ujung tombak ekspornya. Bahkan konon Indonesia juga menjadi pemasok minyak sawit terbesar didunia dengan menyumbang 85% dari seluruh pasokan minyak sawit dunia.

Jadi kaji lebih jauh, predikat salah satu produsen sawit terbesar dunia sesungguhnya bukanlah suatu hal yang layak untuk dibanggakan. Karena demi untuk memenuhi kebutuhan ekspor minyak kelapa sawit tersebut, pemerintah di Indonesia rela mengesampingkan kebutuhan pangan rakyatnya. Lebih ironis lagi, fakta bahwa produksi pangan Indonesia tidak dapat mencukupi kebutuhan pangan masyarakatnya, yang salah satunya disebabkan semakin maraknya alih fungsi lahan pertanian pangan menjadi industri besar perkebunan sawit.

Meskipun pembangunan industri besar kelapa sawit ini seringkali meminggirkan hak-hak masyarakat di pedesaan, pemerintah indonesia tetap memberikan dukungan untuk pembangunanya, baik melalui peraturan perundang-undangan, kemudahan perizinan, modal hingga akses pasar. Dukungan ini justru tidak di dapat untuk petani pangan, sehingga mendorong secara halus petani kecil untuk mengalih fungsikan lahan pertanian pangan miliknya.

Untuk para petani kecil menanam sawit sesungguhnya tidak menguntungkan, justru sebaliknya. ini saya temui melalui ungkapan seorang bapak yang sawahnya terancam seiring izin yang diberikan pemerintah kepada investor perkebunan kelapa sawit didesanya. “sampai matipun saya tidak akan mengubah tanaman padi saya menjadi sawit. Dengan menanam padi diatas lahan 0,2 Ha, saya bisa menghidupi 10 anggota keluarga saya selama satu tahun. Bandingkan jika lahan seluas itu saya tanami sawit yang hanya dapat menanam 10 pohon sawit”. ujar si Bapak.

Selain membutuhkan lahan yang luas, kelapa sawit juga membutuhkan biaya besar dalam pengelolaanya. Selain memerlukan pupuk yang cenderung wajib untuk pemeliharaanya, peremajaan (replanting) pun memerlukan biaya hingga puluhan juta rupiah. Belum lagi dampak buruk terhadap lingkungan yang diakibatkan penggunaan bahan kimia (pupuk, pestisida, dsb), kebutuhan air yang besar.

Jadi, meskipun kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik dan menjanjikan devisa besar bagi negri ini, tapi tetap saja kelapa sawit tidak dapat diterima oleh lingkungan, sosial dan budaya masyarakat di indonesia. Dan petani di indonesia sesungguhnya memiliki pengetahuan yang selaras dengan kehidupan mereka. Untuk itu sudah seharusnya pemerintah di negri ini memberikan dukungan bukan malah sebaliknya.

Categories: catatan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: